(still) Feeling Jealous

•Desember 17, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hallooo, g tau kenapa hari ini ngerasa jealous sama 2 cowok. Plis deh, kok bisa ya??? Padahal kan aku udah punya cowok yang sayang banget sama aku. Jahat yah. Tapi mau gimana? Namanya perasaan, g bisa bo’ong juga. Dua cowok itu yang satu aku pernah akrab, yang satu lumayan kenal. Duuh, musti gimana?????

I’M COMING BACK!!!

•Desember 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Wah, lama banget nggak nge-post…Maaf ya, semuaa…Oh iya, teruntuk semua yang pernah baca blog ini, Fera minta maaf sebesar-besarnya…Fera manusia biasa…Yang bisa beda ngomong sekarang sama besok…

Jalan Cinta (OST AYAT-AYAT CINTA )>>>> SHERINA

•Februari 14, 2008 • & Komentar

sherina.jpg

Semua resah hati manusiamu
Untuk membagi kisah atas nama cinta
Derai air mata di setiap sujudmu seperti tak pernah cukup untuk menjagaku
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu…. Cinta yang semu

Kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku
Di sela doa dalam malam-malam yang sunyi
Ampun yang engkau pinta dalam semua keraguan yg telah meliputi jiwamu
Semoga akan membawa cintamu
Pada diriku dalam jalan dan ridho-Nya
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu…oo… Cinta yang semu

Kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku
Di tengah terik matahari dan dinginnya malam
Kau panjatkan ayat-ayat cinta pada-Nya
Melindungi dan menjaga kisah cinta kita…

Pasha UNGU = Dude Harlino

•Januari 28, 2008 • & Komentar

Nyadar nggak??? Ada sesuatu yang mirip di Pasha UNGU dan Dude Harlino yang sekarang jadi Satria di sinetron Cahaya di RCTI???

I don’t know why…

But I’m sure mereka ternyata mirip

Liat aja di video klip Cinta Dalam Hati sama Iklan Extra Joss UNGU di TV…

Pasha…Dari muka sampai hairstyle nya…bisa mirip sama Dude di Cahaya…

Setuju nggak????

Selamat Jalan Pak Harto

•Januari 28, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kemarin, 27 Januari 2008, Indonesia berkabung..

HM. Soeharto, berpulang ke rahmatullah..Akibat komplikasi organ-organ utama…

Semoga diterima di sisi-Nya..Itu harapan saya

Tapi masih ada saja yang menuntut tegaknya supremasi hukum atau apalah itu…

Mau diberikan pada siapa hukuman kasus perdata Pak Harto???

Yang disebut menjadi pelakunya bahkan sudah tak tinggal di dunia…

Ingat sajalah..Pak Harto memiliki jasa yang besar..bahkan sangat besar untuk Indonesia pada era kekuasaannya…

Tapi terserah saja pada pemerintah…Yang katanya mau keukeuh menegakkan hukum..

Yang paling utama saat ini adalah doa..Untuk Pak Harto..Yang sebentar lagi mungkin akan ‘disidang’ di pengadilan yang paling adil…

Doakan yang terbaik untuknya..Itu saja…Tak perlu mencaci…memaki…Nggak penting…

FENOMENA SINETRON INDONESIA NOWADAYS

•Januari 24, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hahaha…Lucu juga kalo harus mengingat sinetron Indonesia dari masa ke masa. Seperti evolusi. Perlahan-lahan yang memancing sorotan. Sinetron adalah sebuah hiburan yang zaman dulu bisa dibilang sangat menghibur. Si Kabayan, Inem Pelayan Seksi, dan Si Doel Anak Sekolahan banyak sekali memiliki penggemar.
Saat ini produksi sinetron bisa dibilang meledak. Stasiun-stasiun televisi swasta maupun nasional tidak ada yang tidak menampilkan sinetron sebagai tayangan untuk pemirsa. Di sini saya akan sedikit berpendapat mengenai format sinetron di Indonesia dewasa ini. Dari tren “ter” sampai nama. Masih bingung?
Jadi begini. Dulu sewaktu tahun 95-an kita sering sekali melihat tayangan sinetron dengan judul yang diawali imbuhan awal ter-. Sebagai contoh. Tersanjung, Tersayang, dan Terpesona. Berlanjut dengan judul sinetron dengan judul yang diawali “cinta”. Cinta Indah, Cinta Bunga, Cinta Fitri. Dan saat ini yang sangat mewabah adalah penggunaan judul sinetron dengan nama pemeran sentralnya. Sebenarnya tidak usah saya beri contoh, anda mungkin sudah bisa menebak. Tapi kalau memang memerlukan contoh, i’ll give them to you. Ada Intan, Wulan, Cahaya, Azizah, Aisyah, Suci, Safira, Candy, Diva, Mutiara. Kasih, Soleha, dan yang saat ini akan rilis adalah Chelsea yang diperankan Chelsea Olivia Wijaya.
Saya jadi mikir…kenapa nggak ada nama laki-laki yang menjadi judul sinetron sekarang ini? Bambang? Joko? Atau Wawan? Hahaha…
Seperti tren mode. Apa yang sedang “in” dimanfaatkan untuk mengejar profit, mengejar rating, atau apalah- yang menjadi tujuan bisnis, yang tujuan akhirnya duit.
Sebenarnya kalau boleh berfikir secara ilmu sosial, sinetron dengan tren “nama” ini memiliki dampak sosial. Seperti yin dan yang, ada saja sisi buruk selain sisi baiknya. Seseorang boleh sedikit berbangga jikan namanya (kebetulan) menjadi judul sebuah sinetron, apalagi jika pemeran utamanya menjadi favorit semua penonton. Tapi ada saja (walaupun sedikit) rasa kecewa jika ada kekurangan, sebagai contoh, sifat buruk yang menempel pada tokoh utama sinetron. Masyarakat pun bisa juga seolah berkiblat pada sinetron untuk menilai orang. Contoh, jika ada seseorang memiliki nama Soleha, penilaian yang akan diberikan adalah sosok yang baik hati, sabar, dan ramah. Padahal belum tentu juga kan, sifatnya sama.
Sinetron adalah tayangan pencuci otak. Seseorang bisa berubah sifat karenanya. Menjadi pemarah, sensitif, suka mendramatisir suasana adalah sebagian contoh buruknya. Kenapa saya lebih menekankan pada sisi buruk? Karena saya sendiri sudah merasakan bukti-bukti yang tadi saya paparkan. Dan terus terang saya tidak lagi menganggap sinetron sebagai tayangan favorit saya lagi (walaupun sekarang, masih ada satu sinetron yang saya sayang untuk melewatkan). Dulu saya hampir menghabiskan “waktu nonton TV” saya untuk mengikuti setiap episode sinetron, dala satu minggu ada lebih dari empat sinetron yang saya tonton.
It’s all up to you. Mau bersikap yang bagaimana untuk menyikapi sinetron.

SOSIO BUDAYA & KERANGKA PEMIKIRAN FILSAFAT PANCASILA

•Januari 18, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Manusia hidup di dunia dengan berbagai peran dan kedudukan. Beberapa di antaranya adalah sebagai makhluk sosial dan makhluk individu. Manusia sebagai makhluk individu yang hidup di sebuah wilayah dengan kedaulatan dan pemerintahan, akan berhadapan dengan beberapa sistem. Sistem alam semesta, sistem kenegaraan, sistem budaya, serta subyek manusia sendiri.

Dalam pemikiran atas dasar Pancasila, Tuhan atau sistem kepercayaan ditempatkan sebagai puncak segala-galanya. Dalam artian Pancasila mengakui adanya Tuhan yang maha berkuasa atas apa yang terjadi di dunia ini. Diwujudkan secara konkrit dalam sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga dapat selalu dibina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan berkepercayaaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sadar bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai dan diyakini. Maka dikembangkanlah sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan, dan tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaannya itu kepada orang lain.

Hubungan antara manusia sebagai makhluk individu dengan Tuhan Yang Maha Esa yang diyakini adalah hubungan yang bersifat vertikal. Hubungan yang bersifat horizontal adalah dimana seorang individu dihadapkan pada beberapa sistem yang telah disebutkan sebelumnya. Manusia hidup dalam sistem budaya dan sistem alam semesta yang menjelaskan tentang hakikat dan kodrati hidup manusia. Budaya yang memiliki beberapa karakteristik sebagai milik bersama, merupakan hasil belajar, dan diwariskan secara turun-temurun. Indonesia mempunyai beraneka ragam budaya, yang berbeda satu sama lain. Di sini Pancasila menuangkannya dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta sila Persatuan Indonesia. Persatuan dan penghargaan atas perbedaan yang ada dapat menciptakan kerukunan antar budaya di Indonesia.

Manusia juga dihadapkan pada sistem kenegaraan. Tertuang dalam sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia, mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama. Dalam menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan Negara dan kepentingan Masyarakat. Karena mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, maka pada dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain. Sebelum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama, terlebih dahulu diadakan musyawarah. Keputusan dilakukan secara mufakat. Musyawarah untuk mencapai mufakat ini diliputi oleh semangat kekeluargaan yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia.

Manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Dengan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, manusia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Daftar pustaka:

Lubis, Ibrahim, 1981. Kuliah Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Jakarta: Ghalia

Indonesia.

Rasjidi, Lili, 1990. Dasar- Dasar Filsafat Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Tim Sosiologi, 2005. Sosiologi:Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Yudhistira.

http://www.goodgovernance-bappenas.go.id/artikel_148.htm

Dima Ternyata (bukan) Orang Biasa

•Januari 15, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ini kisah seorang Dima, yang tersadar dia bukan orang biasa

Hidup di keluarga besar, yang punya nama besar di masyarakat, yang punya image  terhormat…

Terkadang dia merasa bangga,

Tapi terkadang juga dia merasa terbebani,a

Diharuskan menjaga attitude, layaknya seorang anak yang hidup di lingkungan keraton

Tidak ada kesempatan untuk menjadi diri sendiri, yang harus diakui memang sedikit menyimpang dari “aturan”

Tidak bisa pergi ke tempat yang punya cap kurang baik, padahal itu cuma sekadar cap

Tidak bisa punya hair style yang ditentukan sendiri,

Pokoknya harus jadi “anak baik-baik”

Harus bagaimana??

Saat ini Dima cuma bisa nurut, tidak berani melawan

Karena (ternyata) keluarga punya power yang besar…

For Girls : Chubby Cheek…

•Januari 9, 2008 • 1 Komentar

Cukup dengan trik make-up dan gaya rambut, tampilan pipi yang lebih tirus menjadi milikmu!Make your chubby cheek an A+!!

Chubby Cheek + Rahang Besar!
Masalah chubby cheek dengan rahang besar bisa diatasi dengan pemakaian shading atau bedak berwarna satu tingkat lebih gelap pada tulang rahang bagian bawah. Pilih warna merah bata, lalu gunakan teknik shading di bawah tulang pipi untuk blush on-nya. Hindari cutting rambut yang rata, selalu beri layer pada sisi untuk menutupi bentuk rahang.

Chubby Cheek + Muka Bulat!
Untuk si pemilik pipi bulat, gunakan teknik shading dengan bedak berwarna satu tingkat lebih gelap dari warna kulit. Lalu beri efek shading di rahang bawah, bagian dalam tulang pipi dan bagian pelipis (dahi atas samping). Bila rambutmu tebal, boleh mencoba mengikat rambut dengan teknik sleek tapi bentuk poni sedikit tinggi.

Sedangkan yang berwajah semi chubby, gunakan blush on berwarna soft pink membentuk “<” dan “>” pada tulang pipi. Untuk rambutnya, gunakan trik poni samping seperti Anjani. Trik poni menutupi dahi ini bisa bikin pipi chubby terlihat lebih kurus. Sisakan sedikit rambut di sisi, agar tampak lebih manis.

Sumber: http://mahasiswa.com/index.php?ar_id=2277

Pengaruh Sosial Politik Internet

•Januari 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

    Saat ini internet bisa dikatakan sebagai media informasi yang vital dan ‘merakyat’. Internet telah memberikan banyak hal, dalam artian pengaruh positif dan negatif. Sebagai contoh pengaruh positif, khalayak bisa mendapatkan informasi yang tidak hanya sebatas regional, mereka bahkan dapat mencapai informasi yang sifatnya internasional. Pengaruh positif lain salah satunya internet sebagai media komunikasi yang meniadakan jarak jauh.

Dalam kancah politik, internet digunakan sebagai media komunikasi politik dalam bentuk antara lain kampanye partai politik, akses informasi pemilihan umum, dan informasi politik terbaru dari pemerintah Indonesia serta luar negeri. Akan tetapi, kita bisa lihat internet memiliki pengaruh negatif pula. Internet telah menyuburkan konsumerisme. Masyarakat bisa ‘terbius’ iklan atau apapun yang mempunyai sifat diperdagangkan di dunia maya. Selain itu, kualitas moral ikut menjadi hal yang dipandang sebagai dampak negatif internet. Beberapa link situs yang mempunyai sasaran orang dewasa, dapat dengan sangat mudahnya diakses oleh pengguna internet yang usianya belum sesuai.
Internet sebagai bentuk globalisasi sangat mempengaruhi lingkup sosial politik. Salah satu contohnya adalah hilangnya privacy. Informasi yang disajikan di internet terkadang membuat privacy yang sifatnya bukan untuk umum menjadi rahasia umum. Kemudian mengecilnya ruang dan waktu akibat internet telah mengakibatkan hampir tak ada kelompok orang atau bagian dunia yang hidup dalam suatu isolasi yang jelas.Informasi tentang keadaan tempat lain dan tentang situasi orang lain, dapat menciptakan suatu pengetahuan umum yang jauh lebih luas dan aktual. Informasi itu pada gilirannya dapat menimbulkan solidaritas global yang melintasi kelompok etnis, batas teritorial negara atau berbagai kelompok agama. Sebaliknya, informasi yang cepat ini semakin memudahkan pula sekelompok orang atau orang perorangan di suatu tempat untuk merancang kejahatan bagi kelompok atau orang perorangan lain yang berada sangat jauh.
Dalam bidang politik, batas-batas teritorial suatu negara menjadi tidak relevan. Batas negara tidak menjadi batas dari aliran informasi, karena seseorang di negara tertentu dapat berhubungan langsung dengan orang lain di negara yang berbeda tanpa dapat dihalangi oleh siapapun. Di Indonesia, pengaruh internet juga tampak pada masa Orde Baru. Dimana internet digunakan sebagai media untuk menyuarakan aspirasi rakyat.
Suatu gejala yang amat dahsyat pengaruhnya adalah bahwa dalam internet atau dalam cyberspace, semua kategori dalam suatu social space menjadi tidak relevan. Diferensiasi sosial yang ada dalam masyarakat berdasarkan usia, jenis kelamin, agama, status sosial, tingkat pendidikan, besarnya pendapatan, pengalaman kerja atau tinggi-rendahnya reputasi diterobos tanpa kaidah yang jelas dalam cyberspace. Sebagai contoh, siapa saja dapat mengirim informasinya ke dalam cyberspace untuk diterima atau ditolak oleh orang lain bahkan mungkin juga terjadi dialog di dalamnya tanpa memandang reputasi, usia, dan lain-lain. Sesuatu yang sulit terjadi di dalam media massa manapun.
Internet yang disalahgunakan menciptakan sebuah fenomena sosial baru. Cybercrime, kejahatan atau kriminalitas di internet. Cybercrime dapat dilakukan tanpa mengenal batas teritorial dan tidak memerlukan interaksi langsung antara pelaku dengan korban kejahatan. Bisa dipastikan dengan sifat global internet, semua negara yang melakukan kegiatan internet hampir pasti akan terkena imbas dari perkembangan cybercrime ini. Individu atau kelompok yang melakukan cybercrime populer dengan sebutan cracker dan hacker. Cybercrime bahkan mampu mencapai ranah politik. Salah satu contohnya adalah sistem jaringan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun 2004 yang disusupi oleh para hacker.

Daftar Pustaka:

http://jurnal.bl.ac.id/wp-content/uploads/2007/02/TRANS-Vol1-No3-artikel5-Desember2006.pdf