Pasha UNGU = Dude Harlino

Nyadar nggak??? Ada sesuatu yang mirip di Pasha UNGU dan Dude Harlino yang sekarang jadi Satria di sinetron Cahaya di RCTI???

I don’t know why…

But I’m sure mereka ternyata mirip

Liat aja di video klip Cinta Dalam Hati sama Iklan Extra Joss UNGU di TV…

Pasha…Dari muka sampai hairstyle nya…bisa mirip sama Dude di Cahaya…

Setuju nggak????

Selamat Jalan Pak Harto

Kemarin, 27 Januari 2008, Indonesia berkabung..

HM. Soeharto, berpulang ke rahmatullah..Akibat komplikasi organ-organ utama…

Semoga diterima di sisi-Nya..Itu harapan saya

Tapi masih ada saja yang menuntut tegaknya supremasi hukum atau apalah itu…

Mau diberikan pada siapa hukuman kasus perdata Pak Harto???

Yang disebut menjadi pelakunya bahkan sudah tak tinggal di dunia…

Ingat sajalah..Pak Harto memiliki jasa yang besar..bahkan sangat besar untuk Indonesia pada era kekuasaannya…

Tapi terserah saja pada pemerintah…Yang katanya mau keukeuh menegakkan hukum..

Yang paling utama saat ini adalah doa..Untuk Pak Harto..Yang sebentar lagi mungkin akan ‘disidang’ di pengadilan yang paling adil…

Doakan yang terbaik untuknya..Itu saja…Tak perlu mencaci…memaki…Nggak penting…

FENOMENA SINETRON INDONESIA NOWADAYS

Hahaha…Lucu juga kalo harus mengingat sinetron Indonesia dari masa ke masa. Seperti evolusi. Perlahan-lahan yang memancing sorotan. Sinetron adalah sebuah hiburan yang zaman dulu bisa dibilang sangat menghibur. Si Kabayan, Inem Pelayan Seksi, dan Si Doel Anak Sekolahan banyak sekali memiliki penggemar.
Saat ini produksi sinetron bisa dibilang meledak. Stasiun-stasiun televisi swasta maupun nasional tidak ada yang tidak menampilkan sinetron sebagai tayangan untuk pemirsa. Di sini saya akan sedikit berpendapat mengenai format sinetron di Indonesia dewasa ini. Dari tren “ter” sampai nama. Masih bingung?
Jadi begini. Dulu sewaktu tahun 95-an kita sering sekali melihat tayangan sinetron dengan judul yang diawali imbuhan awal ter-. Sebagai contoh. Tersanjung, Tersayang, dan Terpesona. Berlanjut dengan judul sinetron dengan judul yang diawali “cinta”. Cinta Indah, Cinta Bunga, Cinta Fitri. Dan saat ini yang sangat mewabah adalah penggunaan judul sinetron dengan nama pemeran sentralnya. Sebenarnya tidak usah saya beri contoh, anda mungkin sudah bisa menebak. Tapi kalau memang memerlukan contoh, i’ll give them to you. Ada Intan, Wulan, Cahaya, Azizah, Aisyah, Suci, Safira, Candy, Diva, Mutiara. Kasih, Soleha, dan yang saat ini akan rilis adalah Chelsea yang diperankan Chelsea Olivia Wijaya.
Saya jadi mikir…kenapa nggak ada nama laki-laki yang menjadi judul sinetron sekarang ini? Bambang? Joko? Atau Wawan? Hahaha…
Seperti tren mode. Apa yang sedang “in” dimanfaatkan untuk mengejar profit, mengejar rating, atau apalah- yang menjadi tujuan bisnis, yang tujuan akhirnya duit.
Sebenarnya kalau boleh berfikir secara ilmu sosial, sinetron dengan tren “nama” ini memiliki dampak sosial. Seperti yin dan yang, ada saja sisi buruk selain sisi baiknya. Seseorang boleh sedikit berbangga jika namanya (kebetulan) menjadi judul sebuah sinetron, apalagi jika pemeran utamanya menjadi favorit semua penonton. Tapi ada saja (walaupun sedikit) rasa kecewa jika ada kekurangan, sebagai contoh, sifat buruk yang menempel pada tokoh utama sinetron. Masyarakat pun bisa juga seolah berkiblat pada sinetron untuk menilai orang. Contoh, jika ada seseorang memiliki nama Soleha, penilaian yang akan diberikan adalah sosok yang baik hati, sabar, dan ramah. Padahal belum tentu juga kan, sifatnya sama.
Sinetron adalah tayangan pencuci otak. Seseorang bisa berubah sifat karenanya. Menjadi pemarah, sensitif, suka mendramatisir suasana adalah sebagian contoh buruknya. Kenapa saya lebih menekankan pada sisi buruk? Karena saya sendiri sudah merasakan bukti-bukti yang tadi saya paparkan. Dan terus terang saya tidak lagi menganggap sinetron sebagai tayangan favorit saya lagi (walaupun sekarang, masih ada satu sinetron yang saya sayang untuk melewatkan). Dulu saya hampir menghabiskan “waktu nonton TV” saya untuk mengikuti setiap episode sinetron, dalam satu minggu ada lebih dari empat sinetron yang saya tonton.
It’s all up to you. Mau bersikap yang bagaimana untuk menyikapi sinetron.

SOSIO BUDAYA & KERANGKA PEMIKIRAN FILSAFAT PANCASILA

Manusia hidup di dunia dengan berbagai peran dan kedudukan. Beberapa di antaranya adalah sebagai makhluk sosial dan makhluk individu. Manusia sebagai makhluk individu yang hidup di sebuah wilayah dengan kedaulatan dan pemerintahan, akan berhadapan dengan beberapa sistem. Sistem alam semesta, sistem kenegaraan, sistem budaya, serta subyek manusia sendiri.

Dalam pemikiran atas dasar Pancasila, Tuhan atau sistem kepercayaan ditempatkan sebagai puncak segala-galanya. Dalam artian Pancasila mengakui adanya Tuhan yang maha berkuasa atas apa yang terjadi di dunia ini. Diwujudkan secara konkrit dalam sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga dapat selalu dibina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan berkepercayaaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sadar bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai dan diyakini. Maka dikembangkanlah sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan, dan tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaannya itu kepada orang lain.

Hubungan antara manusia sebagai makhluk individu dengan Tuhan Yang Maha Esa yang diyakini adalah hubungan yang bersifat vertikal. Hubungan yang bersifat horizontal adalah dimana seorang individu dihadapkan pada beberapa sistem yang telah disebutkan sebelumnya. Manusia hidup dalam sistem budaya dan sistem alam semesta yang menjelaskan tentang hakikat dan kodrati hidup manusia. Budaya yang memiliki beberapa karakteristik sebagai milik bersama, merupakan hasil belajar, dan diwariskan secara turun-temurun. Indonesia mempunyai beraneka ragam budaya, yang berbeda satu sama lain. Di sini Pancasila menuangkannya dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta sila Persatuan Indonesia. Persatuan dan penghargaan atas perbedaan yang ada dapat menciptakan kerukunan antar budaya di Indonesia.

Manusia juga dihadapkan pada sistem kenegaraan. Tertuang dalam sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia, mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama. Dalam menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan Negara dan kepentingan Masyarakat. Karena mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, maka pada dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain. Sebelum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama, terlebih dahulu diadakan musyawarah. Keputusan dilakukan secara mufakat. Musyawarah untuk mencapai mufakat ini diliputi oleh semangat kekeluargaan yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia.

Manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Dengan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, manusia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Daftar Pustaka:

Lubis, Ibrahim, 1981. Kuliah Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rasjidi, Lili, 1990. Dasar- Dasar Filsafat Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Tim Sosiologi, 2005. Sosiologi:Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Yudhistira.

http://www.goodgovernance-bappenas.go.id/artikel_148.htm


For Girls : Chubby Cheek…

Cukup dengan trik make-up dan gaya rambut, tampilan pipi yang lebih tirus menjadi milikmu!Make your chubby cheek an A+!!

Chubby Cheek + Rahang Besar!
Masalah chubby cheek dengan rahang besar bisa diatasi dengan pemakaian shading atau bedak berwarna satu tingkat lebih gelap pada tulang rahang bagian bawah. Pilih warna merah bata, lalu gunakan teknik shading di bawah tulang pipi untuk blush on-nya. Hindari cutting rambut yang rata, selalu beri layer pada sisi untuk menutupi bentuk rahang.

Chubby Cheek + Muka Bulat!
Untuk si pemilik pipi bulat, gunakan teknik shading dengan bedak berwarna satu tingkat lebih gelap dari warna kulit. Lalu beri efek shading di rahang bawah, bagian dalam tulang pipi dan bagian pelipis (dahi atas samping). Bila rambutmu tebal, boleh mencoba mengikat rambut dengan teknik sleek tapi bentuk poni sedikit tinggi.

Sedangkan yang berwajah semi chubby, gunakan blush on berwarna soft pink membentuk “<” dan “>” pada tulang pipi. Untuk rambutnya, gunakan trik poni samping seperti Anjani. Trik poni menutupi dahi ini bisa bikin pipi chubby terlihat lebih kurus. Sisakan sedikit rambut di sisi, agar tampak lebih manis.

Sumber: http://mahasiswa.com/index.php?ar_id=2277

Pengaruh Sosial Politik Internet

Saat ini internet bisa dikatakan sebagai media informasi yang vital dan ‘merakyat’. Internet telah memberikan banyak hal, dalam artian pengaruh positif dan negatif. Sebagai contoh pengaruh positif, khalayak bisa mendapatkan informasi yang tidak hanya sebatas regional, mereka bahkan dapat mencapai informasi yang sifatnya internasional. Pengaruh positif lain salah satunya internet sebagai media komunikasi yang meniadakan jarak jauh.

Dalam kancah politik, internet digunakan sebagai media komunikasi politik dalam bentuk antara lain kampanye partai politik, akses informasi pemilihan umum, dan informasi politik terbaru dari pemerintah Indonesia serta luar negeri. Akan tetapi, kita bisa lihat internet memiliki pengaruh negatif pula. Internet telah menyuburkan konsumerisme. Masyarakat bisa ‘terbius’ iklan atau apapun yang mempunyai sifat diperdagangkan di dunia maya. Selain itu, kualitas moral ikut menjadi hal yang dipandang sebagai dampak negatif internet. Beberapa link situs yang mempunyai sasaran orang dewasa, dapat dengan sangat mudahnya diakses oleh pengguna internet yang usianya belum sesuai.
Internet sebagai bentuk globalisasi sangat mempengaruhi lingkup sosial politik. Salah satu contohnya adalah hilangnya privacy. Informasi yang disajikan di internet terkadang membuat privacy yang sifatnya bukan untuk umum menjadi rahasia umum. Kemudian mengecilnya ruang dan waktu akibat internet telah mengakibatkan hampir tak ada kelompok orang atau bagian dunia yang hidup dalam suatu isolasi yang jelas.Informasi tentang keadaan tempat lain dan tentang situasi orang lain, dapat menciptakan suatu pengetahuan umum yang jauh lebih luas dan aktual. Informasi itu pada gilirannya dapat menimbulkan solidaritas global yang melintasi kelompok etnis, batas teritorial negara atau berbagai kelompok agama. Sebaliknya, informasi yang cepat ini semakin memudahkan pula sekelompok orang atau orang perorangan di suatu tempat untuk merancang kejahatan bagi kelompok atau orang perorangan lain yang berada sangat jauh.
Dalam bidang politik, batas-batas teritorial suatu negara menjadi tidak relevan. Batas negara tidak menjadi batas dari aliran informasi, karena seseorang di negara tertentu dapat berhubungan langsung dengan orang lain di negara yang berbeda tanpa dapat dihalangi oleh siapapun. Di Indonesia, pengaruh internet juga tampak pada masa Orde Baru. Dimana internet digunakan sebagai media untuk menyuarakan aspirasi rakyat.
Suatu gejala yang amat dahsyat pengaruhnya adalah bahwa dalam internet atau dalam cyberspace, semua kategori dalam suatu social space menjadi tidak relevan. Diferensiasi sosial yang ada dalam masyarakat berdasarkan usia, jenis kelamin, agama, status sosial, tingkat pendidikan, besarnya pendapatan, pengalaman kerja atau tinggi-rendahnya reputasi diterobos tanpa kaidah yang jelas dalam cyberspace. Sebagai contoh, siapa saja dapat mengirim informasinya ke dalam cyberspace untuk diterima atau ditolak oleh orang lain bahkan mungkin juga terjadi dialog di dalamnya tanpa memandang reputasi, usia, dan lain-lain. Sesuatu yang sulit terjadi di dalam media massa manapun.
Internet yang disalahgunakan menciptakan sebuah fenomena sosial baru. Cybercrime, kejahatan atau kriminalitas di internet. Cybercrime dapat dilakukan tanpa mengenal batas teritorial dan tidak memerlukan interaksi langsung antara pelaku dengan korban kejahatan. Bisa dipastikan dengan sifat global internet, semua negara yang melakukan kegiatan internet hampir pasti akan terkena imbas dari perkembangan cybercrime ini. Individu atau kelompok yang melakukan cybercrime populer dengan sebutan cracker dan hacker. Cybercrime bahkan mampu mencapai ranah politik. Salah satu contohnya adalah sistem jaringan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun 2004 yang disusupi oleh para hacker.

Daftar Pustaka:

http://jurnal.bl.ac.id/wp-content/uploads/2007/02/TRANS-Vol1-No3-artikel5-Desember2006.pdf

Letto – Permintaan Hati

Terbuai aku hilang terjatuh aku dalam
Keindahan penantian

Terucap keraguan hati yang bimbang
Yang terhalang kepastian cinta

Aku hilang
Aku hilang

Tersabut kabut malam terbiasnya harapan
Yang tersimpan sejuta bertuan
Terasa kerinduan hati yang bimbang
Yang terhempas kepastian cinta

Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi
Dan berikanlah arti pada hidupku
Yang terhempas yang terlepas
Pelukanmu bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu

Aku hilang
Aku hilang

Tersabut kabut malam terbiasnya harapan
Yang tersimpan sejuta bertuan
Terasa kerinduan hati yang bimbang
Yang terhempas kepastian cinta

Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi
Dan berikanlah arti pada hidupku
Yang terhempas yang terlepas
Pelukanmu bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu
Bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu

Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi
Dan berikanlah arti pada hidupku
Yang terhempas yang terlepas
Pelukanmu bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu
Bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu

Taken from: http://www.rizkyonline.com/Letto/Letto-Permintaan-Hati.html

Etika, Ilmu, dan Problematikanya

Etika dan ilmu. Dua hal tersebut mempunyai relasi dalam kedirian masing-masing. Etika jelas memiliki pengaruh dalam eksistensi apa yang disebut ilmu. Sebelum analisis lebih lanjut, perlu sedikit dijelaskan apa sebenarnya etika itu. Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai “betul” (“right”) dan “salah” (“wrong”) dalam arti “susila” (“moral”) dan “tidak susila” (“immoral”).[1] Menurut Robert C. Solomon dalam Etika: Suatu Pengantar, etika adalah bagian filsafat yang meliputi hidup baik, menjadi orang baik, dan menginginkan hal-hal yang baik dalam hidup. Kata “etika” menunjuk pada disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya, serta nilai-nilai hidup kita yang sesungguhnya dan hukum-hukum tingkah laku kita.

Etika bisa dibilang sesuatu yang membatasi. Membatasi dalam hal ini memiliki tujuan agar tidak terjadi deviasi nilai dalam sistem masyarakat. Sebenarnya pembenaran atau penyalahan tindakan mempunyai sifat relatif. Karena etika memiliki nilai subyektivitas, mencakup pandangan dan pemikiran individu yang terkadang dianggap ‘berbeda’ dengan kaum mayoritas yang memiliki regulasi dan penataan yang telah dikukuhkan. Etika adalah ilmu yang reflektif dan kritis. Norma-norma dan pandangan moral dengan sendirinya sudah terdapat dalam masyarakat.[2] Hal ini yang akan menciptakan bumping antara yang sudah tertanam dan yang baru datang.

Pada hakikatnya, etika mengandung sebuah pilihan.[3] Kebebasan untuk memilih apa yang akan dilakukan, dijadikan dasar, atau hal-hal lain yang bersifat ‘harus dipilih’. Di sinilah ilmu dan etika membuat problematika. Ilmu yang saat ini semakin berkembang, terkadang mengabaikan nilai-nilai yang telah tertanam. Namun bila dipikirkan secara lebih mendalam, ilmu yang dalam perkembangannya dikekang oleh nilai-nilai, seakan tidak memiliki kebebasan untuk maju. Menurut Aristoteles, jika sebelumnya sudah dipatok apakah bermanfaat atau tidak, ilmu tidak akan berkembang.[4]

Ilmu adalah sesuatu yang ‘bebas nilai’. Mengapa? Karena manusia. Manusia yang bersungguh-sungguh mengkaji dan berusaha mengembangkan ilmu, akan menganggap nilai -bagian dari etika- sebagai salah satu penghambat. Dalam Zubair (2002:72), upaya manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus sebagai simbol dari otonomi manusia itu sendiri. Seringkali melampaui batas kebutuhan manusia itu sendiri, mengancam martabat kemanusiaan, sekaligus dapat membuat manusia cenderung merasa tidak lagi membutuhkan sistem normatif di luar keilmuan dalam menentukan keputusan-keputusan tindakannya. Kita lihat dalam realita sosial. Di mana ilmu dan etika berbenturan. Teknologi-teknologi new economy banyak bersinggungan dengan masalah etika. Misalnya dengan kemajuan teknologi informasi berupa jaringan internet yang menjadi bagian dari komunikasi massa, masalahprivacy/ pribadi menjadi lebih gampang dilanggar yaitu dengan makin mudahnya penyadapan informasi, pencurian data dan lain-lain. Demikian pula dengan perkembangan bioteknologi seperti masalah pangan transgenik, kloning manusia dan sebagainya. Dalam hal ini masalah dignity/martabat kita sebagai manusia sering terkesampingkan.[5]

Dalam perkembangannya, ilmu diharapkan memiliki tanggung jawab etis. Memang, kebebasan pengkajian ilmu membuka kesempatan untuk menghasilkan inovasi-inovasi sebagai pembaharuan lebih lanjut. Tetapi harus diingat, kita tidak hidup dalam homofili mutlak. Justru kita hidup dalam keberagaman aspek kehidupan. Etnis, ras, agama dan kepercayaan yang tidak dapat disatukan dalam satu paham yang semua bisa menerima.

Tanggung jawab etis sendiri bukan berkehendak mencampuri atau bahkan ‘menghancurkan’ otonomi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi bahkan dapat menjadi pengokoh eksistensi manusia.[6] Ilmu juga akan memiliki eksistensi bila tidak melepaskan diri dari etika karena masyarakat mau dan bisa menerima tanpa harus memperdebatkan hal yang ‘menyimpang’ atau dianggap ‘menyimpang’. Karena sekali lagi, mayoritas mempunyai peran. Seseorang yang memiliki kajian dan pengembangan ilmu yang baru, bisa dibilang harus mau ‘berkorban’ apabila hasil kerjanya dianggap tidak sesuai etika sosial. Maka dari itu, ilmu sebaiknya memiliki tanggung jawab etis agar bisa diterima.


[1] Louis O. Kattsoff, 1986. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 349.

[2] Franz Magnis-Suseno, 1987. Etika Dasar: Masalah-masalah pokok Filsafat Moral. Yogyakarta:Kanisius, hal. 96.

[3] Robert C. Solomon, 1984. Etika: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga, hal.4.

[4] Suwarto Adi. 2007. “Kehidupan Tiruan dan Etika Ilmu”. Terarsip di

<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/05/opini/3969705.htm>

[5] Arief B. Witarto. 2005. “Kebebasan dan Etika Ilmu Pengetahuan”. Terarsip di

<http://www.beritaiptek.com/zkolom-beritaiptek-2005-10-21%2001:01:59-Kebebasan-dan-Etika-Ilmu

Pengetahuan.shtml>

[6] Achmad C. Zubair, 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Yogyakarta: LembagaStudi Filsafat Islam, hal. 49.


Welcome 2008…!!!!

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2008…

Buat aku sendiri nothing special… Aku nggak ngerayain sama sekali tahun baru 2008 ini… Hanya saja aku mulai bikin resolusi supaya aku di tahun ini bisa lebih baik-bahkan jauh lebih baik-daripada tahun 2007 kemaren…

Sempat terlintas di pikiran aku, orang-orang berpesta pora dengan kemeriahan terompet dan fireworks… Tapi masih ingatkah mereka dengan penderitaan orang-orang yang katanya saudara kita, yang mereka bahkan tidak memikirkan “Mau ke mana, ya, ngerayain taun baru?”. Mereka masih disibukkan, dipusingkan, disedihkan, atau apalah..something like that..bencana yang menimpa mereka..

Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Boleh nggak, dibilang seperti itu???

Awal tahun ini udah banyak diwarnai ujian…Semoga kita nggak cuma bisa ngeliat mereka yang ditimpa musibah dari berita…Semoga kita peduli “saudara-saudara” kita, dengan wujud nyata, dengan tangan-tangan kita…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.