Pengakuan Glenn Fredly
03 Apr 2010 Leave a Comment
in NewS Tags: glenn, glenn fredly, piracy
Gosip yang bilang Glenn akan mundur dari belantika musik Indonesia tuh salah besar…
Yang bener, Glenn udah ngga gabung lagi di major label -SONY MUSIC- dan dia punya project baru. Dia bakalan jadi produser untuk label yang ngga major -indie,punya dia sendiri- jadi dia bisa bener2 mengekspresikan diri dengan selalu mempersembahkan karya yang taste-nya Glenn banget.
Thanks, Glenn…! ^0^
03 Apr 2010 Leave a Comment
in Friends Tags: glenn fredly
Kamis, 01 April 2010. Katanya sih April Mop, tapi di hari itu saya malah dapet kejutan manis. Surprising moment.
Hari itu saya jadi salah satu peserta seminar Yamaha yang kerja sama sama Majalah Rolling Stones. Ada dua pembicara. Yang satu manajernya RAN, Aura Kasih, dst. Trus yang satunya Glenn Fredly. Mereka ngejelasin ke peserta seminar mengenai industri musik dan manajemen artis -penyanyi khususnya- di Indonesia.
Nah, let’s move on ke sesinya Glenn. Setelah selesai cerita-cerita, kan ada sesi tanya jawab tuh. Saya ikut lah sesi tanya jawab itu. Waktu itu saya nanya soal pemaknaan Glenn terhadap sebuah karya dan cara dia mempertahankan idealisme sebagai seorang penyanyi solo di tengah bergabungnya ia dengan major label.
Ada banyak peserta yang bertanya, enam atau tujuh kalo saya tidak salah menghitung.
Selesai sesi tanya jawab, saatnya pembagian merchandise yang dibawa Glenn. Dia membawa CD album terakhirnya bersama SONY MUSIC. Sayangnya Glenn cuma membawa satu CD. Mas MC sebenarnya mengusulkan pemberian pertanyaan sebagai cara mendapatkan CD. Tapi Glenn menolak. Dia bilang dia tidak akan melakukan undian atau memberi pertanyaan pada peserta agar bisa mendapatkan CD yang ia bawa.
Glenn tiba2 menunjuk ke arah saya. Tuing tuing. Dia bilang CD-nya bakalan ia kasih ke saya saja. Nggak lama Mas MC -editor Rolling Stones- memanggil saya untuk naik ke atas panggung. Naiklah saya. Glenn memberikan langsung CD itu pada saya, kami bersalaman, foto bersama, bersalaman lagi, lalu kami berpisah dan saya kembali ke tempat duduk saya.
Temen saya yang duduk di samping saya pun menyalami saya. Saya tanya kenapa dan dia bilang “bekasnya Glenn, fer”. Saya tertawa. Sampai segitunya ya? ^^
Saya pulang mendahului, karena saya keburu pulang ke kampung halaman dijemput pacar saya. Di luar gedung, seorang kakak angkatan bilang sama saya, “wah kamu sangat beruntung”.
Ya, saya rasa saya sangat beruntung. Dari sisi materi, saya cuma bayar 20ribu untuk tiket seminar. Saya dapatkan 2 majalah, merchandise Yamaha, Pocari Sweat, snack, dan CD Glenn Fredly yang secara langsung dikasih sama yang nyanyi. hahaha, balik modal + dapet untung. Dari sisi non materi, saya seneng lah. Ngga usah saya jelasin, udah pada tahu kenapa kan? ;D
Sewaktu Menjadi LO PT. Adaro Energy Tbk.
03 Apr 2010 2 Comments
in Friends Tags: adaro, job fair, liaison officer, LO, ugm
| ECC Career Days VI dan Education Expo 2010 memberi saya pengalaman yang tak terlupakan. Keikutsertaan saya menjadi panitia di acara ini sebenarnya adalah yang pertama kali. Beberapa teman –yang sebelumnya sudah pernah ikut serta- saya minta berbagi cerita karena saya cukup nervous menjalankan tugas sebagai Liaison Officer. Satu hari menjelang hari H, ketika gladi bersih dan persiapan lainnya dilakukan, saya sendiri cukup kebingungan mencari officer PT. Adaro –yang akan saya dampingi selama acara. Sampai suatu ketika saya dan teman saya keluar gedung untuk mencari udara segar, saya melihat officer PT. Adaro sedang berbincang dengan mas Nurhadi. Singkat kata, saya berkenalan dengan officer saya, mbak Belina namanya. Saya panggil “mba” untuk lebih mengakrabkan suasana dan saya rasa dia belum terlalu tua untuk saya panggil “ibu”. Belakangan saya tahu bahwa beliau telah menentukan dua orang LO PT. Adaro di luar panitia. Dua orang ini berasal dari FKG UGM. Beliau menyatakan ketidaktahuannya bahwa perusahaannya akan didampingi LO dari panitia penyelenggara. Oleh karena itu, ia menentukan sendiri LO-nya. |
Pada saat Career Days dan Education Expo dimulai, hal pertama yang dilakukan di stan PT. Adaro adalah berfoto bersama officer sebelum acara seremoni dimulai. Setelah acara seremoni selesai dan pintu pengunjung dibuka, saya cukup kerepotan melayani para jobseekers. Untungnya keberadaan dua orang LO PT. Adaro sangat membantu saya. Pada hari itu, hadir pula tiga officer PT. Adaro. Hari pertama di stan PT. Adaro menghabiskan 800 lembar formulir pendaftaran. Sedangkan di hari kedua formulir yang diisi para jobseekers mencapai 500-an lembar. Selain menerima pelamar kerja via formulir, officer PT. Adaro juga melakukan interview langsung di tempat bagi para pelamar kerja yang ‘lebih dilirik’ para officer.
Selama dua hari yang cukup melelahkan kemarin, saya merasa kepala saya penuh dengan kata “engineering” karena berulang kali harus menjelaskan kepada para jobseekers mengenai lowongan pekerjaan yang dibuka. Tapi saya merasa senang karena saya mendapatkan banyak informasi dari para officer mengenai perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara ini. Selain itu, saya juga menerima souvenir perusahaan dari officer PT. Adaro.
Wow, this tiring experience was so great and I want to be involved in the next Career days. ^^
Suatu hari di Larissa Monjali…
03 Apr 2010 2 Comments
in Te Amo Tags: hair treatment, larissa, voucher
Beberapa hari yang lalu saya mendatangi Larissa di jalan Monjali untuk sebuah agenda. Medical Hair Spa.
Sebenernya saya mau make voucher yang udah dikasih ke saya pas seminar di Atmajaya. Expired date voucher-nya tanggal 31 Maret dan saya datengnya pas di hari terakhir voucher. Hahaha, mepet banget. Padahal voucher itu dikasihnya pas awal bulan Maret.
Waktu nyampe di Larissa, saya rada minder. Hehehe. Jarang ke klinik kecantikan soalnya. Sekali dateng nagih perawatan gratisan pula. Ah biar, saya kan punya hak penuh atas voucher. *membela diri
Mba-mba resepsionis menyambut saya dengan sangat baik. Ngga lama saya masuk ruang perawatan. Si Bebi nunggu saya di ruang tunggu. Biarlah dia baca koran sama nonton TV.
Ganti kostum,keramas, creambath, pijet tangan,pijet mesin, steaming,keramas lagi, trus di-blow…Aiiihh, nikmat dunia deh. Udah gitu ditambah minum sama snack.
Conclusion:
Larissa pelayanannya memuaskan! Ngga dibedain mana yang bayar sama mana yang gratisan! ;D
What’s on my mind:
…sepertinya perlu punya agenda rutin ke salon…^^
Brand Positioning – J.CO Donuts & Coffee
03 Apr 2010 13 Comments
in Science of Communications Tags: brand, brand positioning, donuts, jco, marketing, marketing communications
BRAND POSITIONING
Brand positioning requires analysis of that information to determine the desired brand awareness and brand image and the necessary points of parity and points of difference with respect to competitors.[1]
Dalam pemasaran, positioning adalah cara yang dilakukan oleh marketer untuk membangun citra atau identitas di benak konsumen untuk produk, merek atau lembaga tertentu. Positioning adalah membangun persepsi relatif satu produk dibanding produk lain. Kemampuan untuk mengidentifikasi peluang positioning merupakan ujian yang berat bagi seorang marketer. Keberhasilan satu positioning biasanya berakar pada berapa lama produk tersebut mempunyai keunggulan bersaing. Beberapa hal mendasar dalam membangun strategi positioning satu produk antara lain : positioning pada fitur spesifikasi produk, positioning pada spesifikasi penggunaan produk, positioning pada frekuensi penggunaan produk, positioning pada alasan mengapa memilih produk tersebut dibanding pesaing, positioning melawan produk pesaing, positioning dengan melakukan pemisahan kelas produk, dan positioning dengan menggunakan simbol budaya/kultur.[2]
Tulisan ini akan membahas brand positioning sebuah brand fastfood yang belum lama beroperasi. J.CO Donuts & Coffee. Brand ini akan diidentifikasi dari tiga aspek: brand itu sendiri, market segmentation, serta kompetitor.
BRAND
Sejarah
J. CO Donuts & Coffee dimiliki dan dikelola oleh Johnny Andrean Group. J. CO Donuts & Coffee ini terinspirasi dari donat di Amerika Serikat. Johnny Andrean pada awalnya berkeinginan membeli franchise donat AS, namun ia menemukan beberapa kelemahan produk, yaitu pada bahan dasar dan proses produksi yang kurang dalam hal kontrol kualitas, sehingga ia mengurungkan niatnya.[3]
Johnny memutuskan untuk mengembangkan donat sendiri tanpa mendapatkan donat waralaba AS. Ia memilih untuk menghasilkan bentuk dan rasa donat yang sempurna, dengan fokus khusus pada kualitas bahan dasar dan proses produksi. Ketika ia kembali ke Indonesia, ia kemudian mengembangkan sebuah toko donat dengan konsep, bentuk dan rasa yang serupa dengan toko donat di Amerika Serikat. Johnny melihat sejauh ini tidak ada toko donat di Indonesia memiliki konsep dapur terbuka, sehingga ia mulai di J.CO. Jadi, selain memiliki rasa yang berbeda, konsep toko juga dibuat sebagai dapur terbuka sehingga konsumen dapat melihat berbagai atraksi pembuatan donat, langsung dari mencampur bahan sampai dengan siap untuk dijual donat tersebut.
Visi dan Misi
Burung Merak pada logo J.CO Donuts & Coffee merupakan representasi visi dan misi perusahaan.[4]
Visi:
- Membentuk J.CO Donuts & Coffee sebagai International Premium Donuts and Coffee Brand terkemuka
- Menjadi trend-setting lifestyle dalam donuts and coffee brand
- Menjadi perusahaan yang tepat bagi orang-orang yang tepat dalam meraih cita-cita mereka.
Misi:
- Menyediakan kualitas premium donat dan kopi
- Mendorong karyawan dalam meraih cita-cita
- Menempatkan pelanggan sebagai prioritas
- Berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dengan sungguh-sungguh
- Menyediakan tempat yang sempurna untuk bersantai
- Memperlakukan setiap orang dengan hormat dan bermartabat
Filosofi Logo
Beberapa mengatakan logo J. CO Donuts & Coffee mirip dengan logo Starbucks. Batas melingkar mungkin sama, tapi bukan merek dagang. J CO Donuts & Coffee menggunakan simbol Merak dalam logo mereka. Merak di sini melambangkan keindahan, elegan, lembut dan keabadian. Keindahan dan kelembutan tercermin dari rasa dan bentuk donat. Sementara keabadian dapat dilihat dari loyalitas konsumen yang bersedia berdiri dengan antrian panjang di toko-toko untuk mendapatkan donat favorit mereka.
Produk
J.CO Donuts & Coffee hadir di tengah masyarakat dengan beberapa jenis produk yang ditawarkan. Produk-produk yang dimaksud meliputi donat, kopi, cokelat, serta produk terbarunya, yogurt. Setiap donat diberi nama kreatif sesuai dengan topping dan rasa. Ini menciptakan sebuah keunikan dan mudah mengingat nama, Sebagai contoh, Cheese Me Up adalah nama untuk donat dengan keju meleleh di atas. Tira Miss U adalah nama dari donat dengan topping tiramisu.
Berikut nama-nama produk yang ditawarkan J.CO Donuts & Coffee: Hazel Dazzle, Glazzy, Alcapone, Coco Loco, Cheese Me Up, Miss Green T, Why Nut, JCrown Oreo, Da Vin Cheez, Mona Pisa, Heaven Berry, Forest Glam, J.CO Praline, J.CO Yogurt, Choco Forest Freeze, J.Pops, dan masih banyak lagi.
Gerai
J.CO Donuts & Coffee telah membuka banyak gerai di Indonesia dan juga di negara lain.
INDONESIA
Jakarta : Supermall Karawaci, Mall Kelapa Gading 2, Plaza Semanggi, Cilandak Town Square, Bintaro Plaza, City Walk Sudirman, Mangga Dua Square, Mall Artha Gading, Margo City, Senayan City, Mall Taman Anggrek, Buaran Plaza, Pondok Indah Mall 1, Summarecon Mall Serpong, Kalibata Mall, Plaza Pondok Gede 2, Mal Puri Indah, Pluit Mega Mall, Atrium Senen, Mall of Indonesia – Main entrance, Emporium CBD Pluit, Cibubur Junction, Pejaten Village, Citraland, Airport Terminal 3, E’xtertainment Center, Puri E’xtertainment Pavilion, Mall Taman Anggrek Lt.3, Central Park, Plaza Senayan, Tamini Square, Cinere Mall.
Bogor : Botanical Square, Ekalokasari.
Bandung : Ciwalk 1 & 2, Istana Plaza, Paris Van Java, Bandung Supermall, Bandung Indah
Plaza.
Bekasi : Metropolitan Mall, Mega Bekasi Hypermart, Bekasi Square.
Solo : Solo Square
Medan : SUN Plaza, Cambridge.
Surabaya : Supermall Pakuwon, Plaza Surabaya, Galaxy Mall, Surabaya Townsquare,
Tunjungan Plaza 1, Tunjungan Plaza 3.
Batam : Mega Mall Batam Center
Bali : Galleria Mall
Balikpapan : E-walk
Samarinda : Plaza Mulia
Semarang : Java Mall Semarang
Makassar : Mall Panakukang, Mall Ratu Indah
Yogyakarta : Mall Malioboro
Pelembang : Palembang Indah Mall
Pekanbaru : Sentral Komersial Arengka, Ciputra Seraya
Manado : Manado Town Square
MALAYSIA
Pavilion – Bukit Bintang – KL, Sunway Piramid, Giant Kota Damansara, Johor Bahru City Square, Queensbay Mall – Penang, AEON Bandaraya Melaka
SINGAPURA
Raffles City, Bugis Junction, Tampines 1.
MARKET SEGMENTATION
Market segmentation, according to Smith, involved analyzing the demand side of the market to obtain a rich understanding of where people are coming from and “the wants” they bring to the marketplace.[5]
Pasar apapun bentuknya akan terdiri dari banyak pelanggan yang berpencar dan beraneka ragam dalam tuntutan pembeliannya. Oleh karena itu tidak ada satupun produsen yang dapat melayani atau memenuhi semua tuntutan pelanggan. Produsen harus mengarahkan program pemasarannya hanya pada pelanggan yang memang menjadi bidikan sasaran pemasarannya, untuk itu produsen harus melakukan segmentasi pasar bagi produknya. Segmentasi pasar adalah proses pemilahan atau pembagian pasar ke dalam beberapa kelompok pelanggan (sub-market) yang memiliki karakteristik sama dalam kebutuhan dan sikap, dan diharapkan akan memberikan respon yang sama terhadap penawaran yang disampaikan. Dengan melakukan segmentasi pasar produsen akan lebih tepat dalam mengarahkan program pemasarannya secara lebih efektif.
Pemikiran mengenai segmentasi pasar dapat dikatakan sebagai jawaban terhadap model pemasaran yang berlangsung sebelumnya yang tidak lagi mampu menjawab dinamika perkembangan kebutuhan tuntutan pelanggan yang semakin beragam. Pada dasarnya pemikiran mengenai segmentasi pasar merupakan sebuah evolusi dari model pemasaran yang pernah berlaku, di antaranya adalah : mass marketing, product differentiated marketing, dan target marketing.
Segmentasi pasar dilakukan dengan mengidentifikasi dan memfokuskan pada sekelompok besar pembeli yang menunjukkan kesamaan dalam hal tertentu. Pada umumnya untuk pasar barang konsumsi segmentasinya didasarkan pada variabel-variabel utama yang berkaitan dengan aspek geografi, demografi, psikografi dan perilaku pasar sasaran (target market).[6]
Berikut segmentasi pasar J.CO Donuts & Coffee:
- Segmentasi Geografis
Wilayah pemasaran J.CO Donuts & Coffee saat ini tak hanya di Indonesia, akan tetapi juga meluas ke negara lain seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Australia. Ke depannya J.CO Donuts & Coffee akan go international untuk memperluas pasar. J.CO Donuts & Coffee cenderung menyasar wilayah urban.
- Segmentasi Demografis
Umur : 18 – 45 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki dan perempuan
SES : A,B
- Segmentasi Psikografis
Segmentasi ini didasarkan pada penggolongan kelas sosial, gaya hidup, atau ciri kepribadian lainnya. J.CO Donuts & Coffee menyasar kelas sosial menengah hingga menengah ke atas dengan gaya hidup modern, menggemari aktivitas sosial serupa hanging out di kafe, serta menggemari makanan dan minuman dengan brand premium.
- Segmentasi Perilaku
Segmentasi ini didasarkan pada tingkat pengetahuan, sikap penggunaan atau tanggapannya terhadap suatu produk. Segmentasi ini dapat dibedakan atas dasar: kesempatan penggunaan, manfaat yang dicari, status pemakai, dan tingkat pemakaian.
J.CO Donuts & Coffee tidak mengenal kesempatan penggunaan. Sedangkan dari sisi manfaat yang dicari, ia dapat menjadi lambang status dan instrumen pemenuhan cita rasa masyarakat. Selain itu, J.CO Donuts & Coffee menyasar konsumen potensial dan konsumen tetap brand pesaing untuk memperluas pasar serta tidak mengenal tingkat pemakaian.
COMPETITORS
Sebagai pemain baru di pasar food and beverages – spesifik pada donat dan kopi, J.CO Donuts & Coffee memiliki beberapa pesaing: I-Crave dan Krispy Kreme.
Membicarakan usaha donuts and coffee, Dunkin Donuts tak akan terlewatkan. Brand yang dimotori Dunkin ‘Brands telah berdiri sejak tahun 1950. Brand ini mencakup worldwide untuk jangkauan pasar dan hingga kini masih tegak berdiri dengan beberapa jenis produk yang ditawarkan: donat, brownies, croissant, muffins, kopi, cokelat, dan lain-lain. Dari sisi usia jelas Dunkin Donuts lebih banyak memiliki jam terbang dibandingkan J.CO Donuts & Coffee yang baru berdiri pada tahun 2005. Akan tetapi Dunkin Donuts bukanlah kompetitor J.CO Donuts & Coffee. Hal ini dikarenakan konsep Dunkin Donuts yang lebih mengarah pada mainstream donuts, setara dengan Country Style Donuts. J.CO Donuts & Coffee lebih diposisikan sebagai donat yang lux dari sisi tampilan maupun kemasan.
I-Crave yang dikelola Melawai Group mengedepankan variasi rasa yang jauh lebih banyak dari J-Co.Variasi filling I-Crave kurang lebih 20 jenis lebih banyak dari J.CO Donuts & Coffee. I-Crave dari sisi harga mampu memberikan diskon sampai 35% jika pelanggan membeli dalam kuantitas di atas dua lusin. I-Crave tidak terlalu menjual ambience seperti yang ditawarkan J.CO Donuts & Coffee, akan tetapi mengedepankan variasi rasa serta harga yang relatif murah..
Krispy Kreme sebagai pesaing J.CO Donuts & Coffee muncul di bawah bendera PT Premier Doughnut Indonesia. Ia merupakan salah satu retail donat tertua di Amerika yang memiliki track record yang jauh lebih lama dibanding J.CO Donuts & Coffee.
CONCLUSION
Identifikasi brand positioning J.CO Donuts & Coffee jika dilihat dari brand itu sendiri adalah sebagai berikut. J.CO Donuts & Coffee adalah brand lokal yang diposisikan sebagai brand internasional. J.CO Donuts & Coffee merupakan representasi gaya hidup modern yang mengandalkan kualitas dan pelayanan terbaik. J.CO Donuts & Coffee menawarkan ambience pada para pelanggannya, hal ini dapat kita lihat dari tatanan interior gerai dan fasilitas meja dan kursi yang nyaman bagi para pelanggan.
Dari segi market segmentation, J.CO Donuts & Coffee berusaha meraih pelanggan yang mengutamakan kualitas dan menggemari brand premium. Selain itu, J.CO Donuts & Coffee menyasar pelanggan yang menjadikan hanging out in café sebagai lifestyle. Konsumen J.CO Donuts & Coffee dalam jangkauan kepribadian ialah mereka yang senang bersosialisasi dan memiliki cita rasa tinggi.
J.CO Donuts & Coffee dan kompetitor-kompetitornya saat ini mengembangkan strategi mereka masing-masing. Keunikan J.CO Donuts & Coffee yang menjadi pembeda dan memberikan nilai plus dibandingkan para kompetitornya adalah konsep dapur transparan sehingga konsumen dapat melihat secara langsung pembuatan donat dan produk-produk J.CO Donuts & Coffee lainnya. Selain itu, J.CO Donuts & Coffee mengedepankan kualitas dengan menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi yang didatangkan dari luar negeri – contoh: cokelat Belgia. J.CO Donuts & Coffee juga menawarkan suasana yang cozy dengan tatanan interiornya sehingga konsumen akan merasa nyaman menikmati hidangan yang mereka beli di gerai J.CO Donuts & Coffee.
[1] Kevin Lane Keller, 1998. Strategic Brand Management: Building, Measuring, and Managing Brand Equity. New Jersey: Prentice Hall.
[2] Widodo Agus Setianto, 2009. Segmentasi Pasar & Positioning.ppt
[3] Lihat di http://surfnux.theuseless.com/2008/06/04/history-of-jco-donuts-coffee/
[4] Lihat di http://www.jcodonuts.com/
[5] Geraldine Fennel and Greg M. Allenby, 2004. Integrated Approach. Archived at http://fisher.osu.edu/~allenby_1/2004%20Integrated%20Approach.pdf
[6] Widodo Agus Setianto, 2009. Segmentasi Pasar & Positioning.ppt
[7] Lihat di http://forum.kafegaul.com/archive/index.php/t-149963.html
Layar Lebar ke Layar Kaca
03 Apr 2010 Leave a Comment
Belakangan beberapa artis yang terkenal lewat film layar lebar menjajal layar kaca juga. Simpelnya, mereka berakting melalui sinetron. Hanya pikiran saya saja, ato ada juga yang berpikir sama, saya ngerasa ada sesuatu yang berbeda. Dulu saya sangat terkagum-kagum dengan akting artis X di layar lebar, karena emang keren dan kelihatan banget kualitas aktingnya. Tapi tak tau kenapa, artis X ini akhirnya mau juga ngejalanin striping.
Wah, jujur saja saya cukup kecewa dengan keputusan si artis. Saya tetep merasa pemain film layar lebar jauh lebih kelihatan prestisius dan berkarisma dan eksklusif dan menawan dibanding kala ia menjadi pemain sinetron striping.
