Chrisye – Kala Cinta Menggoda
30 Jun 2010 Leave a Comment
in Songs O Mine Tags: chrisye, kala cinta menggoda
Sejak jumpa kita pertama kulangsung jatuh cinta.
Walau kutahu kau ada pemiliknya.
Tapi kutak dapat membohongi hati nurani.
Kutak dapat menghindari gejolak cinta ini.
Reff.
Maka ijinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkan aku sekedar sayang padamu. x2
Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta.
Apalagi aku juga ada pemiliknya.
Tapi kutak mampu membohongi hati nurani.
Kutak mampu menghindari gejolak cinta ini.
Maka maafkan jikaku mencintaimu.
Atau biarkan kumengharap kau sayang padaku
Taken from: http://lirik.kapanlagi.com/artis/chrisye/kala_cinta_menggoda
Astrid – Tentang Rasa
27 Jun 2010 Leave a Comment
in Songs O Mine Tags: astrid, tentang rasa
Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
‘tuk sejenak lelap di bahumu
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Taken from:
http://hotliriklagu.com
Suami itu…
27 Jun 2010 4 Comments
in Te Amo Tags: husband, ideal
Meskipun umur saya masih 19 dan belum genap 20 tahun, saya sedikit terpikir mengenai pernikahan. Hmm, bukannya apa-apa. Banyak teman orang tua saya yang menanyakan kapan saya akan menikah. OMG, apa mereka ngga tau kalo saya masih punya sejuta impian dan cita-cita?
Tapi bagaimanapun juga, sepertinya saya yang notabene cucu perempuan tertua di keluarga ibu saya, akan jadi yang pertama hidup dengan laki-laki baru, laki-laki yang pastinya asing di keluarga saya.
Suatu hari almarhum eyang kakung saya tiba-tiba memberikan nasehat mengenai kriteria suami yang ideal. Saya awalnya juga lumayan terkejut, karena waktu itu kami sedang asik-asiknya menonton TV di ruang keluarga. Beliau berpesan, nomor satu adalah agama, nomor dua background keluarga, nomor tiga paras fisik, dan terakhir harta. Poin terakhir digarisbawahi eyang kakung saya pada saat itu. Masalah finansial memang bisa menjadi hal yang sangat penting dalam berumah tangga kan? Masa hanya bermodal cinta?
Pesan almarhum eyang kakung masih saya ingat sampai sekarang. Seiring berjalan waktu, saya sampai detik ini juga memiliki kriteria tersendiri untuk pendamping hidup saya kelak. Meskipun saya sekarang sedang tidak sendiri, saya tidak berani berharap 100% dia akan menjadi pasangan saya selamanya. Manusia boleh berharap, tapi Allah yang Maha Menentukan segalanya.
Ada beberapa poin, dan mungkin kalau saya mempinyai pertimbangan baru, akan saya update di blog ini:
1. seiman
2. mapan
3. pekerja keras
4. berasal dari keluarga baik-baik
5. tidak merokok (saya anti asap rokok, tidak terbayang kalau seumur hidup pernikahan, saya tiap hari menghirup asap rokok)
6. bisa ngaji + jadi imam shalat
7. bisa memimpin doa bersama dan tahlil (biar saya ada pemimpinnya kalau sedang ‘sowan’ ke ‘sarean’ eyang kakung)
8. sabar + romantis…(^0^)
9. bisa menjadi pemimpin keluarga yang bertanggung jawab
BRAND MAP of MINE
27 Jun 2010 2 Comments
in Science of Communications Tags: brand map, marketing communication
KOMUNITAS ONLINE SHOP YOGYAKARTA
27 Jun 2010 10 Comments
in Science of Communications Tags: komunitas, online shop, yogyakarta
Profil Komunitas
Komunitas Online Shop Yogyakarta berdiri pada bulan Desember 2009. Komunitas ini dibentuk atas dasar keinginan untuk menyatukan para seller yang menggeluti usaha online shop di wilayah Yogyakarta. Saat ini komunitas ini memiliki 25 anggota aktif yang setiap 2 minggu memiliki agenda rutin yaitu community gathering sekaligus arisan komunitas. Anggota komunitas ini kesemuanya adalah mahasiswa yang sedang menjalankan studi di Kota Pelajar ini. Dalam setiap pertemuan, komunitas ini banyak bertukar informasi mengenai produk terbaru masing-masing anggota dan kesempatan menjadi reseller. Selain itu mereka biasanya membicarakan berita-berita terbaru mengenai info kecantikan, fashion, hingga gosip terbaru selebritis dan curahan hati mengenai hubungan cinta.
Komunitas Online Shop sendiri berpusat di Jakarta. Komunitas ini memiliki banyak cabang komunitas yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Misi utama komunitas ini adalah membentuk kepercayaan masyarakat bahwa berbelanja secara online tidak selalu identik dengan penipuan. Layaknya Pertamina dengan logo Pasti Pas!-nya, komunitas ini juga memiliki sebuah logo yang akan diberikan pada online seller yang memberikan pelayanan terbaik pada para customer, sebagai contoh mengirimkan barang pesanan pelanggan tepat waktu seperti yang dijanjikan serta kualitas barang yang sesuai dengan yang ditawarkan dalam katalog pembelian. Logo ini bertuliskan “trusted shop family”. Logo ini pun tidak diberikan begitu saja oleh admin pusat di Jakarta. Para online seller awalnya harus mengirimkan identitas diri dan identitas online shop masing-masing, serta fotokopi kartu identitas. Setelah itu, admin pusat mengadakan pengawasan selama 1 hingga 2 bulan untuk memantau kualitas pelayanan sebuah online shop. Jika dianggap memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan, logo ini akan diberikan admin pusat untuk disertakan dalam logo brand dari sebuah online shop untuk lebih membuat para pelanggan dan calon pelanggan mempercayai kualitas pelayanan sebuah online shop.
Komunitas dan Kohesivitas
Komunitas Online Shop cabang Yogyakarta ini beranggotakan para online seller yang berjumlah 25 orang. Yang menarik dari komunitas ini adalah, mayoritas anggota komunitas ini adalah perempuan, dengan komposisi 24 perempuan dan 1 laki-laki. Akan tetapi, acara community gathering yang rutin dilaksanakan komunitas ini lebih sering diikuti kaum perempuan. Dalam komunitas ini, anggota komunitas yang berjenis kelamin laki-laki ini lebih sering membantu persoalan teknis komunitas. Komunitas yang anggota-anggotanya menjual berbagai macam barang seperti pakaian, aksesoris, hingga kamera Lomo ini, memiliki struktur komunitas sederhana yang terbagi atas Ketua (Ema), Wakil Ketua (Heni), Bendahara (Corry), dan Humas (Ukay dan Arum).
Community gathering komunitas memiliki tradisi yang secara tidak langsung ‘mengikat’ para anggotanya. Ya, mereka menggunakan arisan sebagai alat penyatu komunitas. Diharapkan kohesivitas komunitas ini akan selalu terjaga melalui partisipasi tiap anggota dalam arisan. Ketua komunitas ini mengatakan, siapa pun yang berminat untuk bergabung dengan komunitas ini, selain harus memiliki online shop, ia harus aktif berpartisipasi melalui acara arisan komunitas. Ketua komunitas ini mengasumsikan bahwa seseorang tidak akan melewatkan acara arisan jika ia belum tuntas menyelesaikan hitungan uang arisan.
Arisan komunitas ini bersifat wajib bagi para anggota. Masing-masing online seller harus membayar Rp 25.000,00 di setiap arisan. Bahkan jika ia tidak dapat menghadiri arisan komunitas, ia harus mentransfer uang setoran arisan kepada bendahara untuk kemudian diakumulasikan sang bendahara. Bagi anggota komunitas yang memenangkan undian arisan, ia berhak menentukan tempat untuk community gathering selanjutnya. Biasanya, komunitas ini mengadakan community gathering di restoran-restoran dan kafe-kafe yang ada di wilayah Yogyakarta. Bisa dikatakan anggota-anggota komunitas ini bergolongan SES A dan B, mengingat lokasi gathering yang digunakan.
Komunitas ini bisa dibilang jarang mengadakan acara untuk menguatkan hubungan antaranggota komunitas selain acara arisan. Ketua komunitas ini mengatakan, dalam waktu dekat ia akan berdiskusi dengan anggota komunitas yang lain untuk melakukan sesi foto bersama, piknik, dan nonton bareng. Ketua komunitas ini mengatakan bahwa mengkoordinasi semua anggota komunitas bukanlah hal mudah. Hal ini mengingat jadwal masing-masing yang kadang tidak memberikan kesempatan untuk bisa beraktivitas bersama.
Komunitas dan Media
Facebook. Situs jejaring sosial ini menginspirasi banyak orang untuk mendirikan online shop karena pengorganisasiannya yang mudah. Para online seller hanya perlu meng-upload foto barang-barang yang mereka jual sekaligus deskripsi harganya, lalu mencantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi serta nomor rekening bank untuk memudahkan pembayaran transaksi. Komunitas Online Shop Yogyakarta hingga saat ini masih menjadikan internet –terlebih Facebook- sebagai media sentral yang membantu keberlangsungan usaha mereka. Online shop sendiri menjadi sebuah solusi bagi mereka yang ingin menggeluti usaha jual-beli barang, tetapi tidak memiliki tempat atau tidak memiliki dana untuk menyewa tempat usaha. Kita tahu bahwa mendirikan bangunan sebagai tempat usaha memerlukan biaya yang tidak murah, belum lagi untuk penataan dekorasi serta atribut etalase dan lain sebagainya. Oleh karena itu, saat ini kita lihat banyak berkembang online shop yang bisa dengan mudah di-manage oleh pemiliknya.
Ketika diminta pendapat mengenai isu pemboikotan Facebook, ketua komunitas ini merasa khawatir dengan keberadaan online shop yang selama ini telah didirikan. Ia memiliki alternatif solusi untuk memindahkan semua transaksi ke dalam website resmi Komunitas Online Shop jika pemboikotan Facebook terjadi dan pada akhirnya Facebook ditutup. Akan tetapi, ia merasa sedikit pesimis dengan keberhasilan online shop jika dialihkan ke dalam website resmi. Menurutnya, kaskus.us dapat menjadi kompetitor yang kuat mengingat kaskus.us telah menjadi situs populer yang berisi banyak informasi, termasuk informasi jual-beli terkini.
Membicarakan media komunitas, sang ketua komunitas menjawab saat ini belum terpikir untuk membuat media komunitas. Hal ini dikarenakan manajemen media yang rumit serta personel yang kurang handal untuk mengelola sebuah media komunitas. Beberapa anggota komunitas memang ada yang memiliki blog tersendiri, tapi blog-blog ini hanya terbatas pada masing-masing online shop dan bukan pada keseluruhan anggota komunitas.
Selain pemanfaatan internet, komunitas ini juga tetap memanfaatkan media telepon genggam untuk memperlancar arus komunikasi di antara anggota komunitas, serta dalam berkomunikasi dengan pelanggan. Biasanya, mereka mencantumkan nomor telepon genggam dalam webpage mereka masing-masing.
Komunitas dan Event
Komunitas Online Shop Yogyakarta dalam perjalanannya, memiliki keinginan untuk secara rutin menggelar sebuah event bertajuk Garage Sale. Acara ini pertama kali diselenggarakan pada bulan Mei 2010 dan terbilang sukses mengingat banyak orang yang tertarik dan datang, sekaligus melakukan transaksi jual-beli di tempat. Acara ini selain untuk “mensejahterakan” anggota komunitas karena dapat menjual barang dagangan masing-masing, juga menjadi sebuah event untuk mempromosikan komunitas, menunjukkan kepada masyarakat kalau komunitas ini ada, eksis, dan terpercaya. Acara ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota komunitas karena sebagian besar anggota komunitas berpartisipasi dalam acara ini.
Kaum Muda, Online Shop, dan Budaya Populer
The Internet is no longer a niche technology – it is mass media and an utterly integral part of modern life. As our lives become more fractured and cluttered, it isn’t surprising that consumers turn to the unrivalled convenience of the Internet when it comes to researching and buying products.
Jonathan Carson, President, International, Nielsen Online
Perkembangan teknologi khususnya internet telah mencipatakan satu budaya baru di kalangan anak muda. Sebut saja situs jejaring sosial hingga online shop yang saat ini sedang mewabah di kalangan anak muda Indonesia. Keberadaan situs-situs internet pun digunakan dengan beragam alasan. Jika biasanya sebuah media diakses atas dasar kebutuhan informasi, saat ini bisa dikatakan media juga bisa digunakan sebagai sarana eksistensi dan aktualisasi diri. Inilah sisi lain dari pemanfaatan teknologi terkait dengan kebutuhan psikis manusia.
Dewasa ini fenomena online shop tak lagi menjadi sesuatu yang heboh dan baru. Online shopping di beberapa negara bahkan seakan menjadi gaya hidup masyarakat. Survey The Nielsen Company yang meneliti masyarakat online di Eropa, Amerika Utara, Asia Pasifik, dan Timur Tengah, menunjukkan bahwa lebih dari 85% populasi masyarakat telah menggunakan internet sebagai media transaksi jual-beli. Mereka menentukan online shop yang mereka anggap berkualitas pelayanannya dari first impression atas sebuah online shop dan ketika pelayanannya sesuai dengan harapan mereka, mereka –sebanyak 43%- cenderung bersikap loyal atas sebuah online shop. Dasar penentuan yang lain adalah pencarian informasi sebanyak-banyaknya melalui search engine (37%) dan melalui rekomendasi personal oleh teman atau keluarga (32%).[1]
Penelitian lain menyebutkan bahwa online shopping lebih dari sekadar pertukaran barang dengan uang bagi anak muda. Online shopping juga menjadi lambang identitas anak muda. Berikut pernyataan mengenai daya tarik online shopping bagi anak muda:[2]
“The teenagers wanted to buy online because everyone likes receiving stuff in the post, particularly when you’re young, you love things that are addressed for you or you just love the ability to actually not play like an adult but be treated as an adult and part of this is being able to do what adults do on the Internet, […] to be able to buy and I think that teenagers are much more likely to buy on the Internet than older people who see it as a bit suspicious and ‘What is this’, ‘How is this working’[…] These kids have grown up with the Internet, trust computers implicitly, are also earning a hell lot of money. Nowadays they all ’ve got Saturday jobs, evening jobs and they wanna be able to use it in the most technological way possible. “
Dari perspektif komunitas, online shop selain menjadi sarana mendapatkan penghasilan bagi kaum muda, online shop juga menjadi media sosialisasi dengan rekan sepermainan. Selain mendapatkan informasi aktual dan terkini mengenai bidang usaha yang sama, mereka juga mendapatkan sarana aktualisasi dalam rangka meraih eksistensi diri. Eksistensi diri ini dapat dilihat dari lingkungan rekan satu komunitas hingga masyarakat secara luas.
[1] A Global Nielsen Consumer Report: Trends in Online Shopping, 2008. Terarsip dalam http://th.nielsen.com/site/documents/GlobalOnlineShoppingReportFeb08.pdf/
[2]Magdalena Bober, 2001. Can the Internet Replace the Mall? How E-commerce Affects the Shopping Experience for Young People. Terarsip dalam http://www.tiri.mmu.ac.uk/students/mb/shopping-paper.doc/
*semoga bermanfaat. jangan lupa cantumkan sumber di daftar pustaka dan footnote jika mengutip. say no to plagiarisme…thanks
STRATEGI KEHUMASAN DALAM MENGHADAPI KRISIS EKSTERNAL TERKAIT CSR: STUDI KASUS PT. KALTIM PRIMA COAL
27 Jun 2010 4 Comments
in Science of Communications Tags: csr, humas, kaltim prima coal, manajemen krisis, public relations
Latar Belakang
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan isu yang makin ramai diperbincangkan baik di kalangan masyarakat umum, dunia bisnis dan pemerintah. Istilah CSR sering kali digunakan secara bergantian dengan istilah lainnya seperti corporate citizenship, corporate ethics dan corporate sustainability . Konsep CSR menurut World Bank (Fox, Ward, and Howard 2002:1) merupakan komitmen sektor swasta untuk mendukung terciptanya pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).[1] Keberhasilan program CSR tak hanya bergantung pada kepiawaian perusahaan dalam mengimplementasikan program-program yang telah disusun sedemikian rupa, akan tetapi bergantung pula pada stakeholder perusahaan. Iklim kooperatif yang tercipta antara perusahaan dan parastakeholder akan sangat mendukung keberhasilan program CSR dan keberlangsungan perusahaan ke depannya.
Dewasa ini, penerapan program CSR di Indonesia oleh berbagai perusahaan telah berhasil memberikan kemanfaatan kepada parastakeholder perusahaan sehingga dianugerahi penghargaan CSR AWARD. Sebut saja PT. Riau Andalan Pulp and Paper, PT. HM. Sampoerna Tbk., dan lain sebagainya.[2] Akan tetapi, tak jarang kita temui beragam kasus krisis perusahaan terkait CSR yang berujung pada terciptanya konflik antara perusahaan dengan stakeholder perusahaan.
Makalah ini membahas strategi kehumasan dalam menghadapi krisis eksternal dengan masarakat terkait Corporate Social Responsibility (CSR). Makalah ini mengusung studi kasus PT Kaltim Prima Coal untuk melihat dan menganalisis peran public relationsdalam melakukan manajemen krisis antara perusahaan dengan masyarakat.
Deskripsi Permasalahan
Dilansir kaltimpost.co.id, pelaksanaan CSR PT. Kaltim Prima Coal dinilai tidak transparan. Data realisasi CSR yang nilainya setara dengan Rp 50 miliar per tahun tidak pernah dipublikasikan secara mendetail. Karena tidak dipublikasikan secara mendetail, muncul beragam persepsi di tengah masyarakat terkait pelaksanaannya. Masyarakat beranggapan bahwa CSR merupakan hak rakyat Kutim, sehingga seharusnya laporan realisasi CSR perusahaan dipublikasikan.
Masyarakat Kutai Timur juga mempertanyakan janji yang dibuat oleh PT Bumi Resources (BR) sebagai pemegang saham PT Kaltim Prima Coal (KPC). BR memang pernah berjanji membangunkan rumah sakit, membangun kampus Stiper dan membangun Jalan Soekarno-Hatta dua jalur, yang semuanya belum tuntas. Padahal janji itu dilontarkan tahun 2003, menjelang BR akan membeli saham KPC, agar mendapat dukungan Pemkab Kutim. BR juga berjanji mengucurkan CSR sekira Rp 50 miliar per tahun. Tapi pengelolaannya dinilai tak transparan, dan ditangani sendiri oleh KPC. Mujiono mengaku memiliki data tentang realisasi CSR yang tidak banyak dinikmati warga. Misalnya saja CSR tahun 2009 untuk Kecamatan Bengalon. Data itu adalah data yang dirilis oleh Forum Multi Stakeholder (MSH) CSR. Dari dana CSR sekira Rp 1,1 miliar, yang sampai ke rakyat hanya sekira Rp 400 juta. Dana sekira Rp 690 juta diberikan ke instansi vertikal.[3]
Analisis
A crisis is a major occurrence with a potentially negative outcome affecting the organization, company, or industry, as well as its publics, products, services, or good name.[4]
Krisis dalam perspektif kehumasan tak selalu diidentikkan dengan ancaman. Krisis seringkali malah dianggap sebagai sebuah kesempatan untuk membangun citra dalam jangka waktu yang lebih cepat. Hal ini tergantung pada bagaimana krisis dikelola dan bagaimana krisis dapat diprediksi.
Krisis eksternal yang terjadi pada PT Kaltim Prima Coal dapat dikategorikan sebagai krisis yang baru muncul secara tidak langsung. Respon perusahaan terkait transparansi alokasi dana CSR yang dituntut masyarakat sebenarnya sudah bisa dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Penyusunan program CSR PT Kaltim Prima Coal selayaknya dibarengi dengan prediksi krisis yang berpotensi muncul sehingga PR PT Kaltim Prima Coal dapat merumuskan pula tindakan yang dapat dilakukan perusahaan ketika krisis muncul di permukaan. Strategi penanganan krisis yang dapat diimplementasikan terkait krisis eksternal ini adalah adaptive strategy. Pemilihan strategi ini dikarenakan penyebab krisis tidak lepas dari kelalaian dan kesalahan perusahaan sehingga tidak memungkinkan digunakannya defensive strategy. Perusahaan harus berani mengakui keteledoran dan mengambil resiko dengan melakukan perubahan. Strategi komunikasi yang dapat dilakukan PR PT Kaltim Prima Coal dalam krisis eksternal ini antara lain:
1. Internal Relations
Koordinasi dan mediasi yang dibutuhkan untuk menghadapi lingkungan internal perusahaan telah menempatkan PR, dengan pengetahuan dan keahlian komunikasinya, di tengah-tengah pengelolaan hubungan internal. Sebagai bagian dari fungsi PR yang lebih luas, tujuan hubungan internal adalah membangun dan mempertahankan hubungan yang sama-sama bermanfaat antara organisasi dan karyawan, di mana kesuksesan atau kegagalan organisasi akan tergantung kepada karyawan.[5]
Respon awal seorang PR ketika menghadapi permasalahan terkait pengelolaan dana CSR perusahaan adalah meminta klarifikasi kepada pihak internal yaitu manajemen perusahaaan mengenai permasalahan yang berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan. Setelah mendapatkan informasi mengenai kondisi faktual perusahaan, barulah seorang PR merumuskan identifikasi permasalahan dan strategi selanjutnya yang akan dilakukan perusahaan, apakah strategi defensif, strategi adaptif, atau pun strategi dinamis.
2. Community Relations
Langkah konkret yang bisa dilakukan sebagai aksi responsif perusahaan terhadap masyarakat yang mulai mempertanyakan janji-janji yang ditawarkan perusahaan adalah dengan memfasilitasi sebuah forum di mana perusahaan dapat berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat. Forum dua arah ini dapat dimanfaatkan sebagai media perusahaan memberikan klarifikasi dan kejelasan kepada masyarakat mengenai apa-apa yang menjadi keluhan masyarakat. Forum ini juga dapat menjadi tempat kedua belah pihak melakukan negosiasi mengenai langkah terbaik apa yang bisa diambil sebagai win-win solution. Terkait pencitraan perusahaan, forum ini secara tidak langsung telah mencitrakan perusahaan sebagai institusi yang simpati dan peduli pada masyarakat dan mau mendengarkan suara masyarakat.
Jika jalan keluar yang diterima kedua belah pihak telah berhasil dicapai, langkah selanjutnya yang dapat dilakukan PR perusahaan adalah membangun kembali citra perusahaan serta kepercayaan masyarakat. PR perusahaan harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa peristiwa yang sama tidak akan terulang lagi. Hal ini dapat ditunjukkan melalui janji-janji perusahaan yang ditepati dan direalisasikan. Selain itu, perusahaan dapat menyusun program-program selanjutnya yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memberi kemanfaatan yang nyata kepada masyarakat.
3. Media Relations
Media komunikasi massa (surat kabar, radio, televisi) penting sekali fungsinya dalam menyampaikan ataupun menerima pesan dengan cepat kepada khalayak ramai. Oleh sebab itu, dalam menanggulangi krisis, hubungan baik dengan para editor dan wartawan harus selalu dipertahankan.[6] Prinsip kerja dalam media relations adalah (1) memahami dan melayani media, (2) membangun reputasi/citra positif, (3) menyediakan fasilitas untuk publikasi, (4) bekerjasama dalam penyediaan materi informasi krusial, dan (5) membangun hubungan personal yang kuat.
Dalam situasi konflik dan untuk mendukung resolusi konflik, media relations di perusahaan ditujukan membangun enam hal berikut, yang berdimensi jangka pendek dan jangka panjang. Pertama, memproyeksikan adanya citra positif secara umum. Kedua, mengembangkan pemahaman terhadap sistem manajemen yang dianut perusahaan. Ketiga, mengedukasi masyarakat terkait sistem manajemen perusahaan. Keempat, mengidentifikasi berbagai pihak terkait dalam konteks juru bicara kepada media. Kelima, menyediakan informasi penyeimbang. Keenam, mendorong sikap dan kebijakan legislatif agar selalu kondusif. Untuk mencapai tujuan ini, maka staf PR harus memiliki kualifikasi dan kompetensi terkait hubungan langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan krisis yang dialami perusahaan.[7]
.Seorang PR dapat menyelenggarakan press conference dan press gathering, serta membuat press release di berbagai media untuk mengembalikan kepercayaan publik dengan menyampaikan fakta-fakta dan alasan-alasan yang logis dan mendukung perihal asal-muasal krisis eksternal yang terjadi. Kesemuanya ini dilakukan untuk memulihkan citra perusahaan yang terkena isu yang kurang sedap.
Kesimpulan
Partisipasi dunia usaha dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah dengan mengembangkan program kepedulian perusahaan kepada masyarakat di sekitarnya yang disebut tanggung jawab sosial perusahaan/ Corporate Social Responsibility (CSR). CSR merupakan satu usaha juga untuk menciptakan keberlangsungan usaha dalam menciptakan dan memelihara keseimbangan antara mencetak keuntungan, fungsi-fungsi sosial, dan pemeliharaan lingkungan hidup.
Operasionalisasi CSR tak jarang memicu krisis eksternal perusahaan dengan publik yang bersangkutan. PR perusahaan memiliki peran besar dalam manajemen krisis serta memulihkan dan memperkuat citra perusahaan. Oleh karena itu, PR hendaknya melakukan tindakan-tindakan strategis dengan melihat krisis secara holistik. Identifikasi masalah hingga perumusan tindakan perlu dipikirkan secara masak sehingga krisis pada suatu perusahaan tak hanya dipandang sebagai ancaman, akan tetapi juga menjadi sebuah peluang untuk meningkatkan citra perusahaan.
[1]Endang Kurniawan, 2009. Corporate Social Responsibility “Harmonisasi Si Kumbang dan Si Kembang”. Terarsip dalam http://www.iec.co.id/artikel/corporate-social-responsibility-harmonisasi-si-kumbang-dan-si-kembang
[2] Jackie Ambadar, 2008. CSR dalam Praktik di Indonesia. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, hal. 69-146.
[3] CSR KPC Tidak Transparan. 2010. Terarsip dalam http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&id=50629
[4] Fearn-Banks in Wilcox and Cameron, 2009. Public Relations: Strategies and Tactics. USA: Pearson Education Inc., page 262.
[5] Scott M. Cutlip, et.al., 2006. Effective Public Relations. Jakarta: Kencana, hal. 255 – 257.
[6] Emeraldy Chatra dan Rulli Nasrullah, 2008. Public Relations: Strategi Kehumasan dalam Menghadapi Krisis. Bandung:Maximalis, hal. 114.
[7] Masduki, 2009. Center for Security and PeaceStudies. Terarsip dalam http://csps.ugm.ac.id/Media-Relations-dan-Resolusi-Konflik-di-Perusahaan-Migas-Studi-kasus-Sumatera-Bagian-Selatan.html
COMPOSED BY:
Pratiwi Eka Senli H.R.
Primadita D.P.I.
Soraya Maya Safiera
*semoga bisa bermanfaat, jangan lupa tulis di daftar pustaka atau footnote jika mengutip. thanks.
Hari ini kupanggil kalian…
27 Jun 2010 Leave a Comment
in Family Tags: dena, didi, fera, nama, panggilan
Mungkin yang akan saya ceritakan sedikit aneh…
Saya punya dua adik, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bernama Muhammad Fahmi Ardiansyah, yang perempuan Nadya Dina Fauzia. Sejak umur 5 tahun, adik perempuan saya sering memplesetkan namanya ketika ditanya siapa namanya. Dan tak tahu kenapa ini menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama. Saya sangat sering memanggil adik-adik saya dengan sebutan sekenanya yang ada di pikiran saya, yang terkadang saya pikir itu sangat lucu. Tak apa lah, pikir saya. Justru saya anggap sebagai panggilan sayang saya pada mereka. Nama-nama lucu ini juga bisa digunakan untuk kami bercanda satu sama lain. Hmm, jadi jarang berantem kan? Sempat terbersit mereka akan kehilangan jati diri mereka *hehe, lebai. Karena terkadang pada waktu-waktu tertentu, ketika saya memanggil adik laki-laki saya dengan nama aslinya, sama sekali tidak ada sahutan, tidak ada feedback. Tapi ketika saya panggil dengan sebutan ‘neko-neko’ saya, dia baru menjawab panggilan saya. Tapi sebenarnya mereka juga membalas saya dengan panggilan yang ‘neko-neko’ pula. Alamaak, tiap hari apa harus bikin bubur warna buat ganti nama? XD
Di bawah ini akan saya share beragam panggilan yang saya gunakan sehari-hari untuk memanggil adik-adik saya (sambil menulis nama-nama ini saya jelas akan tersenyum-senyum sendiri):
kumita
kumina
kulimba
ketumbar
cungka
kutila
kumini
lusta
kurimba
rutiham
kuna
kuti
rambuna
kumbu
cuki
PR Contest 2010: Dua Surya Kota Bengawan
22 Jun 2010 Leave a Comment
in Friends Tags: humas, kompetisi, public relations, solo, UNS
19-20 Juni 2010…
Setelah melalui persiapan panjang, akhirnya delegasi UGM yang terdiri dari 3 tim (@ 3 orang) memberangkatkan diri untuk berpartisipasi di ajang PR Contest bikinan Himakom Fisip UNS.
Awalnya, di seminar hari pertamanya, cuma kelompok saya yang bisa datang karena kelompok lain masih berkutat dengan ujian akhir. Saat itu suasananya sudah cukup ramai dan sayangnya kami tertinggal satu presentasi dari pembicara pertama.
Beberapa jam kemudian, saat kelompok saya beristirahat di hotel Kartika KusumaSari, kelompok dari UGM yang tadinya belum datang sudah menampakkan batang(-batang) hidungnya. Wuah, tambah ramai saja.
…………………………………………………….(ceritanya sangat panjang dan saya malas menulis…^vV)
Anyway, pada saat sesi presentasi yang ‘egois dan tertutup’ (soalnya yang boleh ada di ruangan cuma kelompok presentator, dosen pendamping,juri, dan panitia…mungkin semut-semut di lantai juga harus legawa karena dilarang masuk ruangan, hehe), kelompok UGM mendapat giliran 2, 3, dan 6. Harapan kami, para juri masih fresh dan belum bosan mendengarkan.
…………………………………………..(saya malas menulis (lagi))
Ketika pengumuman 5 besar kelompok yang berhak maju ke babak berikutnya……ternyata semua yang masuk 5 besar dari luar Jateng- DIY. Tak satupun kelompok dari luar Jateng-DIY yang tidak masuk 5 besar.
Sempat berpikir sedikit kritis,,hehe. apa memang sengaja dibikin begitu?
Menurut saya pribadi, kelompok-kelompok dari Jateng-DIY termasuk kelompok juara. See, Universitas Atmajaya, UIN, UMY, UGM, Universitas Diponegoro. Sama sekali tidak ada yang masuk 5 besar.
Akhirnya saya coba ambil hikmahnya saja. mungkin memang kelompok-kelompok Jateng-DIY masih perlu belajar lebih giat lagi…

